Gangguan fisiologi tanaman mengakibatkan tanaman inang menunjukkan gejala diseluruh bagian tanaman, seperti bantut,perubahan warna daun, perubahan ukuran dan bentuk buah yang dihasilkan. Infeksi pada satu tanaman inang tidak hanya menimbulkan satu tipe gejala penyakit, tetapi juga lebih. Gejala tersebut merupakan gejala eksternal. Gejala internal pada tanaman terinfeksi virus dapat diamati dengan terbentuknya badan inklusi dalam sel. Gejala itu merupakan gejala khas pada tanaman yang terinfeksi virus dan tidak ditemukan pada tanama yang terinfeksi patogen lainnya.

Perubahan histologi pada bagian tanaman yang terinfeksi virus khususnya daun, daun lembaga dan cabang tanaman dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu nekrosisi, hipoplasia, dan hiperplasia. Respon atau tanggap histologi pada tanaman yang diinfeksi virus berupa pembentukan badan inklusi dalam sel. Badan inklusi merupakan protein-protein yang dihasilkan dari virus, berbentuk badan spesifik terhadap virus-virus tertentu, hanaya dibentuk dalam sel-sel yang terserag grub-grub TMV.

Perubahan histology pada tanaman terinfeksi virus khususnya pada daun, daun lembaga dan cabang tanaman dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu nekrosis yang menyebabkan kematian sel, hiperplasia menyebabkan pertumbuhan sel yang cepat atau berlebihan. Serta hipoplasia yang bersamaan dengan gejala mosaik, menurunnya jumlah klorofil, tidak berkembangnya sel mesofil, dan tidak terdapatnya rongga antar sel, seperti pada bagian daun yang menguningpada gejala mosaik. Pada umumnya gejala dari TMV yaitu pada daun yang terserang mempunyai permukaan bergelombang, warna daun belang hijau dan hijau muda sehingga batasnyapun terlihat jelas, ukuran tanaman normal, pertumbuahan daun terhambat, batangnya berbentuk normal yaitu bulat.

Penyakit mosaik disebabkan oleh beberapa jenis virus dan menimbulkan gejala yang sedikit berbeda. Misal pada mosaik ‘biasa’ menyebabkan klorosis diantara tulang-tulang daun, sehingga sepanjang tulang-tulang daun terjadi jalur-jalur berwarna hijau tua. Mosaik ‘bentol’ bagian-bagian yang berwarna hijau tua  menjadi nelengkung, sehingga daun menjadi tidak rata. Pada mosaik ‘keras’ daun menjadai sangat keriting.

Respon atau tanggap histologi pada tanaman yang diinfeksi virus berupa pembentukan badan inklusi dalam sel. Badan inklusi dapat ditentukan menjadi beberapa klompok yaitu kelompok 1, hanya inklusi tan-bentuk saja. Kelompok 2, terdapat inklusi tan bentuk dan kristal (dalam sitoplasma). Kelompok 3, terdapat inklusi tan bentuk dan Kristal (dalam inti dan sitoplasma). Kelompok 4, wujud lain yang tidak biasa terdapat atau yang hanya dideskripsikan sebagian. Badan inklusi yang berada pada tanaman tembakau yang terkena TMV berbentuk kristal dan tan-bentuk atau badan-X. selain itu, dalam sitoplasma terdapat stuktur yang berbentuk cakra (Ivanowski,1903).  Dan percobaan ini mengamati sel daun terserang TMV bagian epidermis dan ditemukan  badan inklusi berbentuk kristal hexagonal berwarna hialin.

Dalam praktikum yang telah kami lakukan ini, didapat 4 macam nematode, yaitu Trichodorus, Aphelenchoides, Rotylenchus, Hemicycliophora. Ada beberapa perbedaan dari keempat nematode tersebut.

Trichodorus, Tubuh gendut dengan kutikula tebal luar biasa yang sering membentuk kerutan sebagai Nematoda bergerak. Nematode betina berbentuk  lurus ketika santai seperti huruf I, sedangkan  jantan posteriornya arkuata. tubuh isinya padat, sering menutupi rincian morfologi. Betina mempunyai ekor bulat dengan anus terminal atau subterminal. Suplemen 1-3, mammiform , well-spasi, absen pasangan anus. Tombak memanjang, ramping, sedikit arkuata. Spicula ramping, arkuata dengan otot melingkar mencolok. Tubuhnya licin Terdapat stilet pada mulutnya, usus dan esophagusnya tidak overlap. Minat Trichodorus spesies telah sangat berkembang sejak penemuan bahwa mereka menularkan penyakit virus tertentu tanaman. Khas cedera ini dikenal sebagai “root gemuk” karena akar gagal menghasilkan pertumbuhan tambahan setelah makan nemas sel terminal.

Literature        : http://nematoda .unl.edu

Aphelenchoides, Secara mikroskopik bentuk tubuh betina Aphelenchoides sp  ramping dengan panjang tubuh berkisar 0,46–0,70 mm dan  lebar  tubuh rata rata 15Mikrometer; daerah vulva terletak 2/3 dari  panjang  tubuh diukur dari bagian  anterior; stilet ramping, panjangnya 10 Mikrometer dengan “basal knobs” kecil tetapi jelas; daerah bibir tampak halus, menonjol dan bagian depan rata, tertapi terdapat juga yang lancip. Ujung ekor lancip, terdapat stilet pada mulut, bentuk tubuh jantan hamper sama dengan tubuh betina, tetapi hanya agak tumpul ujung ekornya.

Rotylenchus, genus ini mempunyai ciri – ciri terdapat vulva, terletak di agak belakang, tubuh licin, terdapat estilet pada mulut, esophagus overlaping, bentuk mulut tumpul, begitu pula dengan ekornya juga tumpul.

Hemicycliophora, genus ini hampir sama dengan genus Trichodorus yaitu tubuh licin, ujung mulut tumpul tetapi ujung ekor lancip, esophagus tidak overlap, stilet panjang, tidak terdapat vulva, pada saat istirahat berbentuk lurus seperti huruf I.

Jamur tiram sangat baik bagi tubuh serta peluang bisni yang sangat luas. Jamur ini mengandung 9 asam amino yang tidak bisa disintesis dalam tubuh. Jamur ini juga mengandung Polysacharida yang tinggi, sehingga cocok untuk bahan pembuatan cream, bedak atau salep untuk perawatan wajah. Bahkan berdasarkan percobaan pada 121 pasien berjerawat kronis, dengan terapi memberikan jamur tiram setiap hari selama 21 hari, hasilnya 73,5 % kondisinya membaik dan 18,2 % sembuh total. Jamur ini juga sangat bagus di konsumsi karena memiliki kandungan protein 2 x lipat lebih baik dari protein asparagus, kubis dan kentang serta 4 x lipat dari kandungan protein pada wortel dan tomat. Jamur tiram putih juga baik untuk mencegah penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi dan diabetes mellitus karena 72% kandungan dari lemak pada jamur adalah asam lemak tak jenuh. (Hart – Humas)

Ada teknologi yang cukup praktis untuk budidaya jamur tiram Pleurotus spp, yakni tahapan untuk membuat media bibit induk dan tahanan memproduksi jamur tiramnya. Pada tahanan membuat media bibit induk ada 10 langkah yang perlu dilakukan. Pertama, bahan medianya yang berupa biji-bijian atau campuran serbuk gergajian albusia (SKG) ditambah biji millet 1 (42%) : 1 (42%). Bahan baku ini adalah yang terbaik. Langkah kedua, bahan baku dicuci. Kemudian, bahan baku tersebut ditiriskan. Tambahkan 1% kapur (CaCl3), 1% gypsum (CaSO4), vitamin B kompleks (sangat sedikit) dan atau 15 persen bekatul. Kadar air 45-60 % dengan penambahan air sedikit dan pH 7. Setelah itu, bahan baku tersebut lalu didistribusikan ke dalam baglog polipropilen atau botol susu atau botol jam pada hari itu juga. Perbotol diisi 50-60% media bibit, disumbat kapas/kapuk, dibalut kertas koran/alumunium foil. Kemudian, baglog disterilisasi dalam autoclav selama 2 jam atau pasteurisasi 8 jam pada hari itu juga. Temperatur autoclave 121 derajat C, tekanan 1 lb, selama 2 jam. Temperatur pasteurisasi 95 derajat C. Langkah keenam, lakukan inokulasi dengan laminar flow satu hari kemudian. Setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar dilakukan inokulasi bibit asal biakan murni pada media PDA (sebanyak 2-3 koloni miselium per botol bibit). Setelah itu, inkubasi (pertumbuhan miselium 15-21 hari) pada ruang inkubasi/inkubator, suhu 22-28 derajat C. Kedelapan, botol atau baglog isi bibit dikocok setiap hari, dua hingga tiga kali. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan miselium bibit jamur merata dan cepat serta media bibit tidak menggumpal/mengeras. Kesembilan, bibit induk dipenuhi miselium jamur dengan ciri pertumbuhan miselium jamur kompak dan merata. Langkah terakhir, jamur tersebut digunakan sebagai inokulan/bibit induk/bibit sehat perbanyakan ke 1 dan ke 2. Bibit ini disimpan dalam lemari pendingin selama 1 tahun, bila tidak akan segera digunakan.

Dalam percobaan ini didapatkan efisiensi biologi sebesar 2,18 %. Walau tumbuh tetapi efisiensi kecil, hal ini kemungkinan disebabkan karena penyiraman yang kurang dan perlakuan yang tidak sesuai.